Pages

Kamis, 11 Oktober 2012

asuhan keperawatan anak dengan morbili




1.1    Definisi
Morbili adalah penyakit virus akut, menular ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi, ( Kapita Selekta jilid 2, hal 417 ).
Penyakit campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus campak yang yang sangat menular dan pada umumnya menyerang anak-anak ( Soegijanto, 2008 ).


1.2    Etiologi
Penyakit morbili atau campak disebabkan oleh virus campak. Virus campak termasuk di dalam famili paramyxovirus yang merupakan virus single sranded RNA. Di dalam virus terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA). Selubung luar merupakan suatu protein yang bersifat hemagglutinin.

1.3    Epidemiologi
Penyakit campak atau morbili bersifat endemik di seluruh dunia. Pengalaman menunjukkan bahwa epidemi campak di Indonesia timbul secara tidak teratur. Epidemi terjadi dengan interval 2-4 tahun sekali. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan, yaitu gizi buruk dan daya tahan yang menurun.
Pada tahun1989 WHA ( World Health Assembly ) telah mendeklarasikan komitmen WHO dalam penanggulangan campak secara global untuk menurunkan campak sebanyak 90% dan dilanjutkan dengan deklarasi oleh the World Summit tahun 1990 yang mengharapkan penurunan kematian campak sekitar 95%.
Penelitian Heriyanto pada KLB di Jawa dan luar Jawa menunjukkan bahwa KLB terjadi pada daerah cakupan imunisasi rendah ( 17,0-46,0%) dan angka serangan campak ( attack rate ) terjadi pada anak usia 1-4 tahun dan 5-9 tahun masing-masing sebesar 10,45%-64,2% dan 4,5%-55,5%, dengan angka kematian ( CFR ) antara 0,43%-6,2%.

1.4    Patogenesis
Perjalanan klinik di awali dengan infeksi epithel saluran napas bagian atas oleh virus, menyebar ke kelenjar lympha regional bersama makrofag. Setelah mengalami replikasi dikelenjar limfa regional, virus dilepas kedalam aliran darah, terjadilah viremia pertama. Sampailah virus ke sistem reticuloendothelial, dan disusul dengan proses replikasi. Viremia yg kedua akan mengantar virus sampai ke “ multiple tissue site “, terjadilah proses infeksi di endothelium pembuluh darah, epithelium saluran napas dan saluran cerna. Virus menempel pada receptor virus campak pada tempat tertentu, misalnya pada lapisan lendir saliran nafas , sel otak dan usus.
Setelah inkubasi selama 10-11 hari, dalam 24 jam kemudian munculah gejala coryza / pilek, conjunctivitis / radang mata dan cough / batuk sebagai gejala periode prodromal. Semua gejala diatas makin hari makin memberat, mencapai puncaknya pada periode erupsi, saat mulai muncul ruam pada hari ke 4 sakit. koplik’s spot, bercak putih di depam M1 yang terletak di mukosa pipi, akan muncul dan menjadi tanda klinik yang pathognomonik.
Gejala panas, cough, coryza dan conjunctivitis pada hari ke 4 akan disusul dengan keluarnya ruam erythro makulopapuler dengan perjalanan dan penyebaran yang khas, sehingga diagnosis klinik mudah dikenali. Periode konvalescence ditandai dengan tersebarnya ruam pada seluruh tubuh, yang disertai turunnya temperatur tubuh secara lisis. Panas pada penyakit campak bersifat “ stepwise increase “, yang puncak panasnya terjadi pada hari ke 5 sakit, dan pada hari ke 6 sakit, bilamana ruam sudah tersebar pada seluruh tubuh, panas akan menurun dan kondisi klinik akan membaik.
Coryza awalnya bersin-bersin, disusul dengan hidung buntu, disertai ingus yang mukopurulen, menjadi makin berat saat ruam mulai muncul, akan tetapi segera hilang pada waktu temperatur normal, yaitu pada saat ruam sudah menyebar keseluruh tubuh. Conjunctivitis dimulai dengan adanya “ conjunctival injection “ dari palpebra bawah, disusul dengan keradangan pada conjunctiva, edema palpebra, peningkatan lakrimasi dan photopobia. Pada penderita anak dengan malnutrisi yang disertai defisiensi vitamin A, manifestasi klinik conjunctivitis tampil lebih berat, dan dapat terjadi keratitis, infeksi kornea, ulcus cornea, yang apabila tidak tertangani secara benar dapat berakibat kebutaan. Batuk yang timbulnya pada periode prodromal, makin hari makin memberat, mencapai puncaknya pada saat erupsi keluar. Gejala batuk ini bertahan agak lama, bahkan ada yang berlangsung sampai beberapa minggu, terutama yang disertai dengan bronkopneumonia.
Ruam penyakit campak adalah erythromaculopapular, muncul 3 -4 hari panas, mulai dari perbatasan rambut kepala, dahi, belakang telinga, kemudian menyebar ke muka, leher, tubuh, extremitas atas, terus kebawah, dan mencapai ujung kaki pada pada hari ke 3 ruam muncul. Setelah ruam sudah menyebar keseruh tubuh, maka ruam awal akan mengabur, disusul dengan munculnya hiperpigmentasi dan desquamasi. Urutan lokasi terjadinya fade – hiperpigmentasi – desquamasi, sama dengan urutan lokasi terjadinya ruam erythro maculopapular. Gejala lain yang dapat dijumpai pada penyakit campak adalah, gastroenteritis, lympadenopathy generalisata, laryngotracheitis, bronchitis dan pneumonitis dan pada anak dengan malnutisi dapat disertai pneumothorax spontan, protein losing enteropathy dan gizi buruk atau aktifasi dari proses tuberkulosis. Apabila natural time table ini melenceng, maka dicurigai adanya komplikasi, baik karena infeksi virus maupun infeksi kuman.

1.5    Manifestasi klinis
a.       Demam
Demam timbul secara bertahap dan meningkat sampai hari kelima atau keenam pada puncak timbulnya ruam. Kadang-kadang kurva suhu menunjukkan gambaran bifasik : ruam awal pada 24 sampai 48 jam pertama didikuti dengan turunnya suhu tubuh sampai normal selama periode satu hari dan kemudian diikuti dengan kenaikan suhu tubuh yang cepat mencapai 40ᵒC pada waktu ruam yang sudah timbul di seluruh tubuh. Pada kasus yang tanpa komplikasi, suhu tubuh mengalami lisis dan kemudian turun mencapai suhu tubuh yang normal.
b.      Coryza ( pilek )
Pilek pada campak tidak dapat dibedakan dengan pilek pada keadaan influenza pada umumnya. Tanda pertamanya bersin-bersin yang diikuti dengan gejala hidung buntu dan sekret mukopurulen yang menjadi lebih berat pada puncak erupsi. Pilek ini cepat menghilang setelah suhu tubuh penderita menjadi normal.
c.       Konjungtivitis
Garis tepi transversal dari injeksi konjungtiva pada kelopak mata bawah kemungkinan dapat dilihat pada awal gejala prodormal. Selanjutnya gejala tersebut tertutup oleh peradangan konjungtiva yang berat bersamaan dengan edema palpebra dan kurunkula. Lakrimasi meningkat dan aering penderita mengeluh fotopobia. Pada kasus yang berat, koplik’s spot mungkin terdapat pada kurunkula. Konjungtivitis akan menghilang segera setelah suhu tubuh menjadi normal.
d.      Batuk ( cough )
Gejala batuk disebabkan oleh karena reaksi inflamasi traktur respiratoris. Seperti gejala catharal lainnya,gejala batuk meningkat frekuensi dan intensitasnya, mencapai puncaknya pada puncak erupsi. Gejala batuk bertahan lebih lama dan biasanya menghilang dalam periode lima sampai sepuluh hari.
e.       Koplik’s spot
Kurang lebih dua hari sebelum ruam timbul, gejala koplik’s spot yang merupakan tanda pathognomosis dari penyakit campak, dapat dideteksi. Lesi ini telah didiskripsi oleh koplik pada tahun 1896 sebagai suatu bintik berbentuk tidak teratur dan kecil berwarna merah terang, pada pertengahannya didapatkan noda berwarna putih keabuan. Mula-mula didapatkan hanya dua atau tiga sampai enam bintik. Kombinasi dari noda keabuan dan merah muda terang disekotarnya merupakan tanda pathognomonik absolut dari penyakit campak. Timbulnya koplik’s spot hanya berlangsung sebentar, kurang lebih 12 jam, sehingga sukar dideteksi dan biasanya luput pada waktu pemeriksaan klinis.
f.       Ruam
Ruam timbul pertama kali pada hari ketiga sampai keempat dari timbulnya panas. Ruam dimulai sebagai erupsi makulopapula eritematosa, dan mulai timbul pada bagian samping atas leher, daerah belakang telinga, perbatasan rambut dikepala dan meluas ke dahi. Kemudian menyebar ke bawah ke seluruh muka dan leher dalam waktu 24 jam. Kemudian terus ke bawah dan mencapai kaki pada hari ketiga. Ruam mulai berubah warna menjadi agak gelap pada hari ketiga timbulnya. Lesi eritematosa awal akan memucat bila ditekan. Setelah tiga atau empat hari, lesi tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. Hal ini kemungkinan sebagai akibat dari perdarahan kapiler,dan tidak memucat dengan penekanan. Dengan menghilangnya ruam, timbul perubahan warna dari ruam, yaitu menjadi berwarna kehitaman atau lebih gelap. Dan kemudian disusul dengan timbulnya deskuamasi berupa sisik berwarna keputihan.

1.6    Stadium
a.       Stadium kataral (prodromal)
Stadium ini berlangsung 4-5 hari. Gejala menyerupai influenza, yaitu demam, malaise, batuk, fotopobia, konjungtivitis, dan koriza. Gejala khas adalah timbulnya bercak koplik menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum, dikelilingi oleh eritema, dan berlokalisasi di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.
b.      Stadium erupsi
Gejala pada stadium kataral bertambah dan timbul enantem di palatum durum dan palatum mole. Kemudian terjadi ruam eritematosa yang berbentuk makula-papula disertai meningkatnya suhu badan. Ruam mula-mula timbul di belakang telinga, di bagian atas leteral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Dapat terjadi perdarahan ringan, rasa gatal, dan muka bengkak. Ruam mencapai anggota gerak bawah pada hari ketiga dan menghilang sesuai urutan terjadinya. Dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali, diare, dan muntah. Variasi lain adalah black measles, yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung, dan traktus digestivus.
c.       Stadium konvalesensi
Gejala pada stadium kataral mulai menghilang, erupsi kulit berkurang dan meningglakan bekas di kulit berupa hiperpigmentasi dan kulit bersisik yang bersifat patognomonik. Pada penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi.
Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.

1.7    Komplikasi
1.      Akut
a.       Pneumonia
     Merupakan penyebab kematian pertama dari morbili karena perluasan infeksi virus disertai dengan infeksi sekunder. Secara klinis manifestasinya dapat berupa bronkhiolitis, Bronkopneumonia, dan Pneumonia Lobaris.
     Bakteri yangsering menimbulkan Pneumonia pada Morbili adalah Streptococus, Pneumococus, Stafilococus, Haemofilus, Influenza dan kadang-kadang dapatdisebabkan oleh Pseudomanas dan Klebsiela. Komplikasi ini harus dicurigai bila anak dengan morbili menunjukkan adanya gangguan pernafasan disertai panas yang menetap.
b.      Gastroenteritis
c.       Enchefalitis
     Merupakan komplikasi yang berat dan sering menyebabkan kematian dan biasanya timbul pada hari ke-2 sampai ke-6 sampai timbulnnya rash. Patogenesis komplikasi ini masih belum diketahui secara pasti, beberapa dugaan seperti akibat invasi langsung virus morbili ke otak, aktivasi virus yang laten atau Ensefalomielitis tipe alergi. Gejalanya berupa panas, sakit kepala, muntah, lemah, kejang, koma atau kelemahan umum. Perjalanan penyakit ini bervariasi dari yang ringan sampai yang berat dan berakhir dengan kematian dalam 24 jam.
d.      Otitismedia
e.       Mastoiditis
f.       Laringotrakeobonkhitis
g.      Cervical adenitis
h.      Purpura Trombositopenik
i.        Aktivasi Tuberculosis
j.        Ulcus Kornea
k.      Apendicitis
2.      Kronik
a.       SSPE ( subakut sklerosing panensefalitis ).
Merupakan kelainan
b.      Kebutaan.
c.       Malnutrisi, terjadi akibat intake yang kurang ( anoreksia, muntah ).
1.8    Pemeriksaan diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas, pemeriksaan serologi, isolasi virus dari urine atau swab nasofaringeal.
Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya lekopeni, dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells. Pemeriksaan serologi dengan ELISA IgM lebih sensitif bila diperiksa antara hari ke-3 sampai hari ke-28 timbulnua rash.
Pada pemeriksaan serologi dengan cara heglutinin inhibition test dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibodi yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. Tes ini cukup praktis dan spesifik untuk mendiagnosis morbili atipik dan subklinik.

1.9    Penatalaksanaan
Pengobatan campak umumnya ringan, self limited, tidak tersedia anti viral spesifik, antibiotika tidak mempengaruhi perjalanan klinik penyakit, sehingga pengobatan campak adalah suportif. Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada penyakit campak yang berat dan disertai mallnutrisi, akan mempercepat penyembuhan pneumonia dan gastroenteritis, memperpendek lama tinggal di rumah sakit, menurunkan angka kematian.
Imunisasi campak dilakukan pada semua anak usia 9 bulan, 15 bulan dan 6 tahun .

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Morbili

          Pengkajian
1)      Anamnesa :
Identitas klien
Keluhan utama : biasanya anak demam naik turun selama lebih dari 3 hari
Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan keluarga
2)      Pemeriksaan fisik
Wajah : kulit tampak eksanterm makulopapular
Mata : conjungtiva hiperemis +/+, lakrimasi +/+
Hidung : sekret +/+, konka edema +/+
Mulut : mukosa kerinf atau lembab
Kulit : ruam makulopapular +
·         Aktifitas / istirahat : malaise (+/-)
·         Sirkulasi : tekanan darah normal / sedikit di bawah jangkauan normal ( selama hasil curah jantung tetap meningkat ), kulit hangat, kering, bercahaya
·         Eliminasi : diare atau tidak
·         Makanan / cairan : anoreksia, mual muntah
·         Neurosensori : pusing, gelisah
·         Nyeri
·         Pernapasan : takipnea dengan penurunan ke dalam pernapasan
            Diagnosa Keperawatan
1.      Hipertemi berhubungan dengan adanya proses inflamasi.
2.      Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi sekret
3.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan infeksi primer virus.
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan berkurangnya napsu makan.
5.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan munculnya ruam.
6.      Gangguan rasa nyaman : gatal berhubungan dengan munculnya ruam.
         Intervensi
1.      Diagnosa : Hipertemi berhubungan dengan adanya proses inflamasi.
Tujuan : Adanya keseimbangan diantara produksi panas, peningkatan panas dan kehilangan panas pada tubuh pasien.
Kriteria hasil :
·         Suhu tubuh pasien dalam batas normal dalam waktu 24 jam.
·         Suhu kulit pasien dalam rentang yang diharapkan dalam waktu 24 jam.
Intervensi :
Mandiri            
·        Pantau hidrasi (misal : turgor kulit, kelembapan membran mukosa).
·         Pantau tekanan darah, nadi dan pernapasan
·         Pantau suhu minimal setiap dua jam, sesuai kebutuhan
Edukasi
·         Ajarkan pasien/keluarga dalam mengukur suhu tubuh untuh mencegah dan mengenali secara dini hipertermia.
Kolaborasi
·         Berikan obat antipiretik, sesuai dengan kebutuhan.

2.      Diagnosa : ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi sekret
Tujuan : Menunjukkan pembersihan jalan napas yang efektif.
Kriteria hasil :
·         Pasien dapat mengeluarkan sekresi secara efektif
·         Pasien mempunyai jalan napas yang paten
Intervensi :
Mandiri
·    Auskultasi bagian dada anterior dan posterior untuk mengetahui adanya penurunan
·    Kaji keefektifan pemberian oksigen dan perawatan lain
Edukasi
·    Instruksikan pada pasien tentang batuk dan teknis napas dalam untuk memudahkan keluarnya sekresi.
Kolaborasi
·      Rundingkan dengan ahli terapi pernapasan, sesuai dengan kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Judith M Wilkinson. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Soegijanto Soegeng. 2007. Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia Jilid 6. Surabaya : Airlangga University Press.
Staf pengajar ilmu kesehatan anak. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Infomedika.
Rampengan TH. 2006. Penyekit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC
Rudolph Abraham. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 1. Jakarta : EGC




0 komentar:

Poskan Komentar